Loufar Zone

mencari dan memberi yang terbaik

“Edisi kedua mengikuti pendekatan yang edisi pertama untuk topik tetapi telah dibawa lebih up to date. Terutama dengan meninjau hasil dari lima pesawat ruang angkasa surya modern dan dari Sudbury Neutrino Observatory… saya akan sangat merekomendasikan buku ini untuk siapa saja yang tertarik dengan bagaimana Matahari bekerja dan berperilaku dan bagaimana bahwa dalam impinges gilirannya atas bumi dan kehidupan kita di sini. ” (C. R. Kitchin, Astronom Masa kini, April 2007)

Buku ini boleh dipinjamkan:

Pinjam buku

Temukan nama-nama unik seseorang yang berasal nama-nama tempat dari belahan dunia. Buku ini dalam bentuk kamus yang sudah berupa basis data A-Z dari nama semua orang dari belahan bumi dan berbagai jenis bahasa.

Buku ini boleh dipinjamkan:

Pinjam buku

Dari mana kita berasal? Apa yang akan terjadi pada kita ketika kita mati? Bagaimana seharusnya kita menjalani hidup kita? Kita masih mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini hingga hari ini. Semua masyarakat mengajukan pertanyaan ini, tetapi tidak setiap masyarakat jawaban mereka dalam cara yang sama. Pada sebagian besar masyarakat manusia purba, cara menjawab pertanyaan-pertanyaan penting adalah agama. Salah satu cara yang agama-agama kuno berusaha untuk menjawab pertanyaan dasar tentang kehidupan dan apa artinya menjadi manusia adalah melalui bercerita, khususnya mitos. Mitos A, dalam arti asli dari kata tersebut, adalah cerita yang kebenarannya tidak diragukan lagi.

Buku ini boleh dipinjamkan:

Pinjam buku

Why are golf assistants called caddies? Why do the British drive on the left and North Americans on the right? Why is football played on a “gridiron,� and a leg injury called a “Charlie horse�? The answers to these questions and the origins of hundreds of other expressions and customs are brought together in this fascinating collection of the history behind everyday words and routines. With all the conciseness of his original radio scripts, Doug Lennox “cuts to the quick� in telling you the things you always wanted to know.

Buku ini boleh dipinjamkan:

Pinjam Buku

Selama 25 tahun terakhir, sekolah kedokteran telah secara ekstensif mengintegrasikan pengajaran ilmu pengetahuan dasar, termasuk biokimia, ke dunia klinis. Sekarang jarang untuk menemukan kurikulum sekolah medis di mana biokimia diajarkan secara terpisah sebagai array yang luas dari reaksi, mekanisme kimia, dan jalur metabolik dipisahkan dari proses normal dan patofisiologi yang terlibat dalam kesehatan manusia dan penyakit. Meskipun keragaman saat ini dalam bentuk kurikulum medis yang berkisar dari tradisional kuliah, melalui berbagai campuran kuliah dan format kelompok kecil, ke “jalur baru,” yang mengandalkan terutama pada kelompok kecil, pembelajaran berbasis masalah konten sekarang solid berorientasi pada klinis konteks. Dengan demikian, banyak kursus dalam biokimia, khususnya yang terletak di bokimia atau berhubungan dengan sekolah medis, memiliki kebutuhan untuk bahan pengajaran dimana biokimia konsep dan keterangan yang disampaikan dan dikembangkan melalui presentasi contoh spesifik dari penyakit manusia.

Buku ini boleh dipinjamkan:

Pinjam Buku

Edisi pertama buku ini diterbitkan pada tahun 1985. Sejak saat itu, studi tentang biokimia dan biologi molekul lipid dan lipoprotein telah menggaris bawahi pentingnya fisiologis lipid. Penting peran baru dari gen yang terlibat dalam metabolisme lemak, dan hubungannya dengan penyakit seperti penyakit jantung, diabetes, obesitas, stroke, kanker, dan gangguan neurologis, telah terungkap. Pada Edisi 5 buku ini, memperhitungkan kemajuan besar dalam bidang ini dan,disamping itu memberikan pengetahuan dasar tentang gen dan protein yang terlibat dalam proses metabolisme lemak.

Buku ini boleh dipinjamkan:

Pinjam Buku

Banyaknya istilah-istilah biokimia yang sering kita dengar. Namun apakah kita tahu arti sebenarnya dari istilah tersebut? Buku ini dapat membantu kita untuk mengenal istilah ilmiah khususnya istilah yang terdapat pada artikel ilmiah maupun jurnal yang biasanya berbahasa inggris.

Buku ini boleh dipinjamkan:

Pinjam Buku

Buku ini adalah buku yang cukup penting dalam menerangkan prinsip-prinsip dasar mekanisme metabolisme. Khususnya bagi yang sudah memiliki buku Harper buku ini adalah buku pegangannya, karena buku ini menjelaskan pathway yang ada di dalam buku Harper itu sendiri.

buku ini boleh dipinjamkan:

Pinjam buku

Sangitan (Sambucus javanica Reinw.) Sangitan merupakan tanaman asli Indonesia, menyukai tempat-tempat basah dan banyak ditemukan tumbuh liar di tepi-tepi rawa, padang rumput, jalan setapak sekitar sawah atau ditanam penduduk sebagai tanaman hias pekarangan, kadang-kadang sebagai tanaman pagar. Umumnya tanaman ini menyukai tempat-tempat yang tidak terlalu kering atau terlalu lembab di dataran rendah sampai ketinggian 1.000 mdpl.

Perdu, tahunan, tegak, tinggi 1-4m. Batang bulat, berkayu, dengan percabangan yang banyak. Daun sangitan termasuk daun majemuk menyirip gasal ganda dua tidak sempurna, memiliki 5-11 anak daun yang letaknya meyirip. Helaian anak daun bertangkai, berbentuk elips memanjang sampai lanset, panjang 4-8cm, lebar 1,5-3cm, ujung runcing, tepi gerigi, gundul tidak berambut, warna permukaan atas hijau tua. permukaan bawah hijau muda. Ukuran bunga kecil-kecil, berwana putih, kelopak kecil berlekuk malai rata, keluar dari ujung ranting dan berbau harum. Buahnya buah batu yang menyerupai buni, diameter 3-4mm, buah yang masak berwarna hitam dapat dimakan. Jumlah biji 1-3 buah. Sangitan dapat diperbanyak dengan setek atau biji.

Sifat dan Khasiat
Rasanya manis, sedikit pahit, sifatnya hangat. Herba ini masu meridian hati (liver) dan berkhasiat sebagai peluruh kencing (diuretik), menghilangkan pembengkakan, menghilangkan nyeri (analgesik) an melancarkan sirkulasi.

Akar berkhasiat meredakan kolik (antipasmodik) dan menghilangkan pembengkakan. Buah berkhasiat peluruh kencing, pembersih darah, pencahar dan perangsang muntah.

Kandungan Kimia
Tumbuhan ini mengandung minyak asiri, cyanogenic glucoside, ursolic acid, â-sitosterol, á-amyrin palmitate, KNO3 dan tanin. Buah mengandung saponin dan flavonoida.

Bagian yang digunakan
Bagian yang digunakan adalah akar, herba dan bunga yang dijemur sampai kering jika akan simpan.

Indikasi
Akar digunakan untuk pengobatan:
– Bengkak akibat terbentur
– Tulang patah (fraktur)
– Rematik, pegal linu
– sakit kuning

Herba digunakan untuk pengobatan :
– Badan bengkak karena timbunan cairan pada penyakit ginjal
– Beri-beri
– Disentri
– Radang saluran napas kronis (bronkitis kronis)
– Eripelas (infeksi kulit akut yang disebabkan oleh Steptococcus sp)

Seluruh tumbuhan digunakan untuk pengobatan :
– Keram/kejang pada kaki
– Nyeri pada tulang
– Bengkak akibat terkena pukulan
– Bengkak/edema (timbunan cairan dalam jaringan) di kaki

Bunga digunakan untuk pengobatan :
– Kulit terbakar sinar matahari
– Bercak hitam di wajah (freckles)
– Menghaluskan kulit
– Saraf mudah terangsang

Cara pemakaian
Untuk obat yang diminum, minum rebus90-120g herba segar atau 30-60g herba kering, lalu minum air rebusannya. CAra lain, tumbuk herba segar dan air perasannya diminum.

Untuk pemakaian luar, cuci seluruh tanaman sampai bersih lalu rebus. Setelah dingin, gunakan air rebusannya untuk mencuci koreng atau untuk mandi pada penderita penyakit rubela (German measles). Cara lain, cuci seluruh tanaman sampai bersih, lalu giling halus. Tempelkan ramuan tersebut ke seluruh tubuh yang sakit, seperti bengkak akibat terpukul, gatal-gatal dan eksim.

Efek farmakologis dan hasil pemakaian
Infus daun sangitan dengan konsentrasi 1 mg/ml, 0,1 mg/ml dan 0,01 mg/ml mampu menekan kebocoran enzim GPT ke dalam medium suspensi hepatosit tikus terisolasi yang disebabkan oleh zzat toksik D-galaktosamin HCL 2mM. Hal serupa juga diperoleh pada ekstrak heksan dan fraksi ete hasil hidrolisisnya. Dari hasil pemisahan fraksi eter dapat diisolasi senyawa triterpen yaitu senyawa amirin (Cokorda Istri Kesumawati, FF UNAIR, 1990).

Dr. Hadiman, dosen Unpad Bandung, menemukan senyawa antikanker dari kulit kayu pohon angsana. Perusahaan farmasi eisei, jepang, akan memproduksinya. Penemuan itu sudah dipatenkan di jepang.

POHON angsana, di Bandung, berderet melindungi pejalan kaki dari sengatan matahari, ternyata bisa jadi pelindung lain. Kulit tanaman keras berdaun rimbun itu kini diketahui bisa mencegah merambatnya sel kanker yang ganas. Diam-diam, kenyataan yang cukup mengejutkan ini ditemukan Dr. Hadiman, seorang dosen kimia analitik pada Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung beberapa waktu lalu. Prestasi ini baru menjadi berita setelah belum lama ini penemuannya masuk ke deretan registrasi paten di Jepang. Sudah lama Hadiman tertarik pada pohon angsana. Pada khazanah obat-obatan tradisional, kulit kayu pohon ini dikenal sebagai obat mencret. Maka, ketika Hadiman ditunjuk menjadi anggota tim kerja sama Unpad dengan The Institute for Physical and Chemical Research (IPCR), sebuah lembaga penelitian kimia Jepang, angsana ia ajukan untuk diteliti. Prof. Sasongko S. Adisewoyo, ketua tim ahli dari pihak Unpad, setuju, dan angsana pun masuk ke dalam program penelitian dalam kerja sama itu. Pohon angsana, (Iterocarpus indicus), segera terungkap kaya akan zat aktif. Salah satunya adalah bahan pewarna kulit. Namun, di laboratorium IPCR, Hadiman khusus memburu zat aktif pada kulit kayu angsana, mencari kandungannya yang diperkirakan bisa digunakan untuk obat penyakit pada perut. Bertahun-tahun sarjana kimia analitik itu mencoba mengisolasi berbagai zat dengan bermacam-macam proses kimiawi. Akhirnya, ia berhasil menemukan senyawa polifenolik. Dan itu tak lain adalah zat penghambat pertumbuhan sel-sel kanker. Penghambatan terjadi karena zat ini mampu mempengaruhi reaksi kimia pada plasma sel-sel yang terkena kanker. Untuk mendapatkan senyawa itu, Hadiman mengambil kulit kayu dari cabang yang belum terlalu tua dan masih segar. Setelah dirajang, kulit kayu itu dijemur di terik matahari hingga kering. Selanjutnya, kulit kering itu ditumbuk halus. Serbuk yang didapat dimaserasi (direndam) dalam metanol 70 persen selama semalam, sambil diaduk-aduk. Setelah disaring, ampasnya sekali lagi menjalani proses maserasi. Akhirnya, ekstrak kulit kayu angsana itu dimasukkan ke ruang vakum, untuk menghilangkan metanolnya. Dengan proses kimia yang rumit, diperoleh zat padat aktif berwarna kecokelatan, senyawa polifenolik. Untuk melengkapi penemuannya, Hadiman juga mengukur keampuhan polifenolik yang didapat dari angsana. Hadiman mencobakannya pada tikus yang beberapa jaringan tubuhnya sudah ditulari sel-sel kanker. Terbukti, aktivitas plasmin, yaitu enzim yang erat hubungannya dengan karsinogenesis (reaksi pada pertumbuhan sel kanker), bisa dihambat. Derajat ketahanan hidup tiga ekor tikus yang sengaja dijangkiti sel-sel kanker tadi meningkat setelah masing-masing disuntik dengan 2 mg dan 50 mg senyawa polifenolik. Dari penelitian itu, disimpulkan bahwa senyawa polifenolik dapat digunakan sebagai ramuan obat penghambat kanker. Dosis efeknya bervariasi, tergantung kondisi penderita. Sel-sel kanker yang dihambat terutama sel kanker yang berkembang pada alat-alat pencernaan. Yang menggembirakan, tak ada efek negatif, misalnya pengaruh pada pertumbuhan sel-sel tubuh yang lain. Percobaan klinis terhadap manusia tentu saja masih perlu dilakukan apabila polifenolik angsana sudah diramu menjadi obat. Penelitian ini akan menjadi tanggung jawab Eisei, perusahaan kimia terkemuka di Jepang yang berminat membeli paten Hadiman untuk membuat obat dalam bentuk tablet. “Yang penting, biar kita patenkan dulu,” kata Hadiman, menghindar mempermasalahkan pembelian paten itu. Prof. Sasongko menilai penemuan ini sangat membanggakan di antara penemuan lain. Kepala Pusat Penelitian Sains dan Teknologi Unpad yang jadi team leader dalam kerja sama dengan IPCR itu mengungkapkan, selama kerja sama — sejak 1980 — Unpad telah mempatenkan tiga hasil penelitian. Selain polifenolik, ditemukan pula zat antibiotik dari tanah untuk pembasmi jamur tanaman. Juga, zat insektisida dari daun sirsak. Sebelum diajukan ke lembaga paten Jepang, penemuan Hadiman diuji dulu oleh sebuah dewan ilmu pengetahuan. “Penemuan ini dianggap orisinil dan belum pernah ditemukan peneliti lain sebelumnya,” kata Sasongko — suatu bukti bahwa Indonesia tak cuma punya pohon angsana, tapi juga peneliti yang menekuni rahasianya. Hasan Syukur (Bandung)